Paesan Ageng

on Selasa, 25 Juni 2013
Paesanageng typeface

Paesanageng pada dasarnya diambil dari kata “Paes Ageng” yang merupakan satu rias pengantin tradisional khas jawa. Paes Ageng secara harafiah makna kata nya dapat diartikan secara sederhana sebagai sebuah riasan yang luhur/besar dan agung. Kenapa dianggap luhur? Karena riasan ini merupakan riasan pengantin, yang bagi masyarakat jawa perkawinan merupakan salah satu siklus penting dalam kehidupan manusia, Seperti dikemukakan Prof. Koentjaraningrat, bahwa upacara perkawinan pada dasarnya merupakan suatu peralihan  terpenting dalam daur hidup seseorang, yaitu peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga. 

Why Paes Ageng?
Sederhana, siklus bumi yang menuntut perubahan jaman, dari jaman tradisional menjadi era, era globalisasi modern menghasilkan karya-karya yang bersifat modern pula, tak terkecuali rias pengatin.
            Hal itulah yang membuat saya tergelitik untuk membuat perancangan typeface bergaya tradisional dengan motif Paes Ageng, yang semoga dapat turut ambil bagian dalam upaya pelestarian budaya tradisional yang ada, khususnya rias pengantin Paes Ageng agar tetap EKSIS di era modern ini.


Riasan Paes Ageng sangat kaya akan unsur yang melekat didalamnya, mulai dari Cunduk menthul, Kelat Bahu, Udet, Dodot, dll.
Unsur- unsur dalam Paes Ageng

photo via : madwifetobe


Namun pada perancangan ini lebih di fokuskan pada unsur-unsur yang ada dalam bagian wajah, atau yang biasa disebut dengan cengkorongan. Cengkorongan meliputi beberapa unsur didalamnya, seperti, citak, panunggul, pangapit, panitis, godeg, alis menjangan ranggah, kinjengan, dll.
Dari beragam unsur tersebut, dipilih beberapa unsur yang akan dijadikan sebagai acuan bentuk dalam anatomi huruf yang akan dibuat.


Kelima unsur tersebut dianggap sangat memorable akan kekhasan rias Paes Ageng, sehingga dipilih sebagai acuan bentuk dalam anatomi huruf.


                         Panunggul              Pangapit               Panitis             Godeg


Panunggul terletak ditengah-tengah dahi, berbentuk meru melambangkan Trimurti (tiga kekuatan dewa yang manunggal). Panunggul berasal dari kata tunggal, yaitu terkemuka atau tertinggi, mengandung makna dan harapan agar seorang wanita ditinggikan atau dihormati.

Pengapit terletak di kiri kanan panunggul berbentuk seperti meru (gunung) namun langsing. Sedangkan penitis terletak di antara pengapit dan godheg. Pengapit, panitis, godheg dibuat sebagai keseimbangan wajah, maka  diletakkan simetris dengan panunggul.

Keempat unsur tersebut memang hampir memiliki bentuk yang sama, hanya berbeda letak dan tebal-langsingnya bentuk.            

Satu unsur lagi yaitu Alis menjangan ranggah (tanduk rusa). Rusa merupakan symbol kegesitan, dengan demikian kedua pengantin diharapkan dapat bertindak cekatan, trampil, dan ulet dalam menghadapi persoalan rumah tangga.







Acuan Bentuk Huruf

 Huruf yang akan di jadikan acuan yang kemudian akan di modifikasi dengan unsur-unsur Paes Ageng adalah “Trebuchet Ms”. Huruf ini dibuat oleh Vincent Connare pada tahun 1996. Trebuchet Ms masuk kedalam jenis huruf Sans serif, sehingga memiliki kesan casual, dinamis, dan sedikit beraksen kontemporer.



Perancangan
            Dalam proses perancangan, acuan bentuk dan unsur yang ada di olah menjadi sebuah typeface baru, dari bentuk huruf mula-mula yakni huruf Trebuchet MS.

 Huruf  Trebuchet Ms dirombak sedemikian rupa menjadi huruf bentuk baru yang lebih dekoratif (misscelaneous), sesuai acuan bentuk dari unsur-unsur yang ada dalam rias Paes Ageng.


                       
   Hasil transformasi huruf diatas menghasilkan huruf baru yang saya namai “Paesan Ageng” yang mempunyai ciri-ciri :
-          Stroke berupa garis-garis lengkung single (tidak menyatu)
-          Terminal meruncing lancip
-          Memiliki 3 bagian, stroke, line, dan outline

Hasil perancangan

"penerapan pada media cover majalah mekarsari"